Demensia adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan otak untuk berfungsi hollytea.co.id secara normal, terutama dalam hal ingatan, berpikir, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, apakah benar bahwa perempuan lebih rentan terkena demensia dibanding laki-laki? Mari kita ulas fakta-faktanya.
Apa Itu Demensia?
Demensia bukanlah penyakit tunggal, melainkan istilah umum untuk menggambarkan persikab.co.id penurunan fungsi kognitif yang signifikan. Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum, diikuti oleh demensia vaskular, demensia frontotemporal, dan demensia campuran. Gejala awal biasanya meliputi lupa nama, kesulitan mengingat kejadian baru, hingga perubahan perilaku dan suasana hati.
Statistik Gender pada Demensia
Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan memang memiliki angka kasus demensia lebih tinggi dibanding laki-laki. Menurut laporan dari World Health Organization (WHO), sekitar dua pertiga penderita Alzheimer adalah perempuan. Namun, angka ini tidak selalu berarti bahwa perempuan lebih rentan secara biologis. Faktor usia memegang peranan penting, karena perempuan cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang daripada laki-laki. Dengan usia yang lebih tua, risiko terkena demensia meningkat secara signifikan.
Faktor Risiko Khusus Perempuan
Selain usia, ada beberapa faktor risiko yang lebih sering dialami perempuan:
Perubahan hormon: Penurunan estrogen pasca-menopause diduga memengaruhi kesehatan otak.
Harapan hidup lebih panjang: Semakin tua usia, risiko demensia semakin tinggi.
Faktor sosial: Perempuan lebih sering hidup sendiri di usia lanjut, yang dapat meningkatkan risiko stres dan isolasi sosial—dua faktor yang berhubungan dengan kesehatan kognitif.
Meski begitu, laki-laki juga memiliki risiko tersendiri. Misalnya, risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan demensia vaskular pada laki-laki.
Mitos atau Fakta?
Maka, apakah benar perempuan lebih sering terkena demensia? Jawabannya: fakta dengan catatan. Ya, perempuan lebih banyak tercatat sebagai penderita demensia, tetapi penyebabnya lebih kompleks daripada sekadar gender. Faktor usia, hormon, dan kondisi sosial berperan besar dalam fenomena ini.
Penting untuk memahami bahwa demensia bukan “hukuman gender” atau sesuatu yang pasti dialami perempuan. Pencegahan dan gaya hidup sehat tetap dapat mengurangi risiko, termasuk:
Menjaga pola makan seimbang.
Rutin berolahraga.
Melatih otak melalui membaca, bermain puzzle, atau belajar hal baru.
Memelihara interaksi sosial yang positif.
Kesimpulan
Demensia lebih sering dialami perempuan dibanding laki-laki adalah fakta, tetapi bukan sekadar karena jenis kelamin. Faktor usia, hormon, dan gaya hidup memiliki peranan besar. Memahami risiko ini membantu kita lebih siap dalam pencegahan dan perawatan. Dengan gaya hidup sehat dan perhatian lebih pada kesehatan otak, risiko demensia bisa diminimalkan, bagi perempuan maupun laki-laki.