Bruxism merupakan kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi secara promohondadepokan.id berlebihan, baik saat tidur maupun ketika terjaga. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami bruxism hingga muncul keluhan pada gigi, rahang, atau kepala. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak serius pada kesehatan gigi dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Apa Itu Bruxism dan Mengapa Bisa Terjadi?
Bruxism adalah kondisi ketika seseorang secara tidak sadar menggesekkan pascasarjana-iainjember.id atau menekan gigi dengan kuat. Kebiasaan ini sering terjadi saat tidur (sleep bruxism), tetapi juga bisa muncul saat beraktivitas atau dalam kondisi tertekan (awake bruxism).
Penyebab bruxism cukup beragam. Faktor stres dan kecemasan menjadi pemicu paling umum. Selain itu, gangguan tidur, posisi gigi yang tidak sejajar, kebiasaan mengunyah permen karet berlebihan, hingga konsumsi kafein juga dapat meningkatkan risiko bruxism. Pada anak dan remaja, bruxism kadang berkaitan dengan fase pertumbuhan gigi dan biasanya bersifat sementara.
Ciri-Ciri Bruxism yang Perlu Diwaspadai
Bruxism sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas di awal. Namun, ada beberapa tanda yang patut diperhatikan. Gigi terasa ngilu atau aus tanpa sebab yang jelas bisa menjadi indikasi awal. Selain itu, nyeri rahang saat bangun tidur, sakit kepala di pagi hari, serta otot wajah yang terasa tegang juga sering dialami penderita bruxism.
Pada beberapa kasus, pasangan tidur atau anggota keluarga justru lebih dulu menyadari adanya suara gigi beradu saat malam hari. Jika kondisi ini terus berulang, struktur gigi bisa mengalami kerusakan secara perlahan.
Dampak Bruxism terhadap Kesehatan Gigi dan Tubuh
Bruxism yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai masalah. Gigi menjadi lebih cepat aus, retak, atau bahkan patah. Tekanan berlebih pada rahang juga dapat memicu gangguan sendi rahang (TMJ) yang menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak mulut.
Tidak hanya itu, bruxism juga bisa memengaruhi kualitas tidur. Tidur yang tidak nyenyak akan berdampak pada konsentrasi, suasana hati, dan produktivitas di siang hari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan mengelola kebiasaan ini sejak dini.
Cara Mengurangi dan Mencegah Kebiasaan Bruxism
Langkah awal dalam mengatasi bruxism adalah mengelola stres. Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau aktivitas ringan sebelum tidur dapat membantu mengurangi ketegangan. Menjaga pola tidur yang teratur juga berperan penting dalam menurunkan risiko bruxism saat malam hari.
Selain itu, pemeriksaan gigi secara rutin sangat dianjurkan. Dokter gigi dapat memberikan solusi seperti pelindung gigi khusus untuk mengurangi tekanan pada gigi saat tidur. Mengurangi konsumsi kafein dan menghentikan kebiasaan menggigit benda keras juga dapat membantu mencegah kondisi ini semakin parah.
Pentingnya Kesadaran Dini terhadap Bruxism
Mengenal lebih dekat kebiasaan bruxism membantu kita lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan rahang. Meski terlihat sepele, bruxism dapat menimbulkan dampak jangka panjang jika diabaikan. Dengan kesadaran sejak dini dan langkah pencegahan yang tepat, bruxism dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup tetap terjaga.
Memperhatikan sinyal dari tubuh dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional adalah kunci utama untuk menjaga senyum tetap sehat dan nyaman setiap hari.